gabungan bloger petanque
1. Pengantar Kuliah
Pada pertemuan pertama kami membahas tentang komitmen perkuliahan mata kuliah pencegahan dan perawatan cedera yang akan dijalani selama 16 kali pertemuan.
1.1 Kontrak kuliah yang dibahas meliputi:
1. Waktu Perkuliahan
Jadwal masuk perkuliahan mata kuliah ini dimulai pukul 11.30 - 13.10 dan ditetapkan waktu dispensasi untuk perkuliahan ini, untuk mahasiswa diberikan dispensasi masuk selama 10 menit dari jadwal seharusnya dan untuk dosen pengampu dispensasi masuk selama 20 menit. Jika telat lebih dari waktu yang ditentukan maka tidak diperbolehkan mengikuti perkuliahan.
2. Penilaian:
- Afektif : Kehadiran (50%) dan sikap
- Kognitif : Ujian (20%) (midtest 40% dan UAS 60%)
- Psikomotor : Keterampilan (30%) Membuat blog sertakan vidio terkait materi yang dijelaskan
3. Dalam 16 kali pertemuan diharuskan mengikuti perkuliahan tidak kurang dari 12 kali pertemuan (75%) dan jika kurang absensi kehadiran maka tidak diperbolehkan menyanggah nilai ke dosen.
2. pengertian Petanque
Olahraga petanque adalah permainan ketepatan yang berasal dari Prancis dan dimainkan dengan cara melempar bola besi (boule) sedekat mungkin ke bola kayu kecil yang disebut cochonnet. Permainan ini dilakukan dari dalam lingkaran lempar dengan kedua kaki tetap berada di tanah saat melakukan lemparan. Petanque dapat dimainkan secara tunggal (single), ganda (double), maupun beregu tiga orang (triple).
Olahraga ini menuntut konsentrasi tinggi, strategi yang matang, serta penguasaan teknik dasar yang baik agar pemain mampu mengontrol arah, kekuatan, dan ketepatan lemparan secara optimal. Dalam setiap pertandingan, pemain tidak hanya dituntut memiliki kemampuan fisik, tetapi juga kecermatan dalam membaca situasi permainan, memperhitungkan jarak, kondisi permukaan lapangan, serta posisi bola lawan. Keputusan yang diambil dalam setiap giliran lemparan sangat menentukan hasil akhir, sehingga aspek taktik dan ketenangan mental menjadi faktor penting dalam mencapai kemenangan.
Selain sebagai olahraga rekreasi yang dapat dimainkan oleh berbagai kalangan usia, petanque juga telah berkembang menjadi olahraga prestasi yang dipertandingkan di tingkat nasional maupun internasional. Di Indonesia, cabang olahraga ini berada di bawah naungan Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI), sedangkan secara global diatur oleh Fédération Internationale de Pétanque et Jeu Provençal (FIPJP). Kejuaraan-kejuaraan resmi yang diselenggarakan mencakup level regional, nasional, hingga ajang dunia yang mempertemukan atlet-atlet terbaik dari berbagai negara.
2.1 Menurut para Ahli
Menurut Fédération Internationale de Pétanque et Jeu Provençal (2018; 5), “petanque adalah permainan olahraga yang bertujuan menempatkan bola besi sedekat mungkin dengan bola sasaran (jack atau cochonnet) sesuai dengan aturan resmi pertandingan”. Definisi ini menegaskan bahwa aspek utama dalam petanque adalah akurasi, konsistensi teknik, serta kepatuhan terhadap peraturan permainan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, keberhasilan seorang pemain tidak hanya diukur dari seberapa dekat bola ditempatkan ke sasaran, tetapi juga dari kemampuannya menerapkan strategi, menjaga sportivitas, serta memahami regulasi yang berlaku dalam setiap pertandingan.
Di Indonesia, petanque dinaungi oleh Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) yang mendefinisikan petanque sebagai cabang olahraga konsentrasi yang mengutamakan ketepatan, ketenangan, dan strategi dalam setiap lemparan (FOPI, 2020; 3).
3.3. Sejarah Dan Perkembangan Petanque
3.1 Sejarah Petanque
Petanque adalah olahraga bola tradisional asal Prancis yang dikembangkan dari permainan Yunani Kuno (sekitar abad ke-6 SM) dan berevolusi di Provence. Versi modernnya lahir di La Ciotat pada 1907 oleh Jules Le Noir sebagai solusi bagi pemain rematik. Nama pétanque berasal dari bahasa Prancis "pieds tanqués" yang berarti "kaki diam".
- Kelahiran versi modern permainan ini terjadi pada tahun 1907 di kota La Ciotat, sebuah kota kecil di dekat Marseille, Prancis. Pada masa itu, masyarakat setempat gemar memainkan Jeu Provençal, yaitu permainan melempar bola logam yang mengharuskan pemain berlari beberapa langkah sebelum melempar bola ke arah sasaran. Teknik tersebut menuntut kondisi fisik yang prima karena membutuhkan kecepatan dan kelincahan. Namun, seorang pemain bernama Jules Lenoir(sering juga ditulis Le Noir) mengalami rematik yang membuatnya tidak lagi mampu berlari seperti sebelumnya. Keterbatasan fisik tersebut tidak memadamkan semangatnya untuk tetap bermain. Bersama rekannya, Ernest Pitiot, ia kemudian memodifikasi aturan permainan agar dapat dimainkan tanpa harus berlari. Ia menciptakan teknik baru dengan cara melempar bola sambil berdiri diam di dalam sebuah lingkaran kecil dengan kedua kaki tetap berada di tanah. Teknik ini dikenal dengan istilah “pieds tanqués” (kaki tertancap di tanah), yang kemudian menjadi asal-usul nama permainan pétanque. Perubahan sederhana tetapi inovatif ini membuat permainan menjadi lebih inklusif karena dapat dimainkan oleh berbagai kalangan usia dan kondisi fisik. Sejak saat itu, gaya bermain berdiri di dalam lingkaran menjadi ciri khas pétanque modern dan berkembang pesat, tidak hanya di wilayah Provence, tetapi juga ke berbagai negara di dunia.
- Kejuaraan Dunia pétanque pertama kali diselenggarakan pada tahun 1959 sebagai tindak lanjut dari berdirinya federasi internasional setahun sebelumnya. Ajang bergengsi ini dilaksanakan di kota Spa, Belgia, dan menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya para pemain dari berbagai negara berkumpul dalam satu kompetisi resmi tingkat dunia. Kejuaraan ini diselenggarakan di bawah naungan Fédération Internationale de Pétanque et Jeu Provençal (FIPJP), yang bertujuan untuk memperkenalkan standar aturan internasional serta memperkuat persaudaraan antarnegara melalui olahraga. Pada edisi perdana tersebut, beberapa negara Eropa ambil bagian dan menunjukkan tingginya antusiasme terhadap perkembangan pétanque di luar Prancis. Penyelenggaraan Kejuaraan Dunia tahun 1959 ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pétanque karena menandai transformasinya dari permainan tradisional regional menjadi olahraga kompetitif berskala internasional. Sejak saat itu, Kejuaraan Dunia pétanque rutin digelar dan terus berkembang dengan partisipasi negara yang semakin luas dari berbagai benua.
Perkembangan pétanque secara global berlangsung sangat pesat setelah olahraga ini memiliki aturan baku dan organisasi internasional. Dari Prancis, permainan ini dengan cepat menyebar ke berbagai negara di Eropa seperti Spanyol, Italia, Belgia, dan Belanda melalui hubungan budaya, perdagangan, serta kompetisi antarnegara. Popularitasnya terus meningkat karena pétanque relatif mudah dimainkan, tidak memerlukan lapangan khusus yang rumit, dan dapat diikuti oleh berbagai kalangan usia. Penyebaran pétanque ke luar Eropa juga tidak terlepas dari pengaruh kolonial Prancis pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Di wilayah Asia Tenggara, negara-negara bekas koloni Prancis seperti Vietnam, Laos, dan Kamboja mengenal pétanque melalui interaksi dengan administrasi dan tentara Prancis. Seiring waktu, olahraga ini diterima oleh masyarakat lokal dan bahkan berkembang menjadi cabang olahraga prestasi yang dipertandingkan di tingkat nasional maupun regional. Selain itu, pétanque juga berkembang pesat di Thailand, yang kini dikenal sebagai salah satu kekuatan utama pétanque di Asia. Di benua Afrika, terutama di negara-negara Afrika Utara dan Barat yang juga memiliki sejarah hubungan dengan Prancis, pétanque menjadi olahraga populer di kalangan masyarakat. Hingga saat ini, olahraga ini telah dimainkan di puluhan negara di berbagai benua dan rutin dipertandingkan dalam ajang internasional, menunjukkan bahwa pétanque telah bertransformasi dari permainan tradisional Prancis menjadi olahraga global.
3.2 Sejarah petanque di indonesia
Petanque diperkenalkan secara resmi di Indonesia pada SEA Games 2011 di Palembang, didorong oleh kebutuhan mendesak untuk cabang olahraga baru yang berpotensi medali. Feredisi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI). didirikan pada 18 Maret 2011 untuk menaungi cabang ini, yang kini berkembang pesat sebagai olahraga prestasi yang rutin dipertandingkan di PON.
Awal masuknya pétanque ke Indonesia sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 1990-an, ketika beberapa ekspatriat Prancis yang tinggal di Indonesia mengenalkan permainan ini kepada komunitas lokal. Namun, pada masa itu, olahraga ini masih terbatas di kalangan kecil dan belum dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Momentum penting untuk penyebaran pétanque secara nasional terjadi pada tahun 2011, ketika Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah SEA Games ke-26. Kejuaraan multinasional ini menjadi ajang bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia untuk memperkenalkan pétanque sebagai salah satu cabang olahraga resmi dalam ajang internasional, sehingga meningkatkan minat dan kesadaran publik terhadap olahraga ini.
Olahraga petanque mulai berkembang pesat di Aceh sejak diperkenalkan sekitar tahun 2015, oleh Prof.Dr.Ramdan Pelana, M.OR dengan Abdurrahman,M.Pd, sebagai pelopor utamanya. FOPI (Federasi Olahraga Petanque Indonesia) Aceh mencatatkan prestasi gemilang, sering menjadi juara umum di level nasional (Pra-PON 2019, Kejurnas 2021) dan aktif berpartisipasi dalam kejuaraan internasional, menjadikan Aceh sebagai salah satu kekuatan petanque utama di Indonesia.
Perkembangan awal pétanque di Aceh dimulai pada tahun 2015, ketika olahraga ini mulai diperkenalkan secara resmi di provinsi tersebut. Pengenalan awal difokuskan pada lingkungan pendidikan, seperti sekolah menengah dan perguruan tinggi, untuk mengenalkan generasi muda pada olahraga yang mengutamakan ketelitian dan strategi ini. Selain itu, pengembangan juga dilakukan melalui fasilitas olahraga lokal dan komunitas, di mana latihan rutin dan mini turnamen menjadi sarana utama membangun minat serta keterampilan pemain. Program pembinaan atlet muda dan workshop bagi pelatih turut diterapkan agar olahraga ini dapat berkembang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai cabang olahraga prestasi. Dengan pendekatan ini, Aceh berhasil membentuk basis pemain dan klub lokal yang terus bertumbuh, sehingga provinsi ini menjadi salah satu wilayah yang aktif dalam memajukan pétanque di tingkat regional.
- Sosok Pelopor: Abdurrahman, M.Pd., merupakan tokoh sentral yang memperkenalkan dan memperjuangkan olahraga ini di Aceh.
- Prestasi Nasional & Internasional: FOPI Aceh meraih juara umum di berbagai kejuaraan, seperti:
- Juara Umum Kejuaraan Antar Perguruan Tinggi se-Indonesia (2017).
- Juara Umum Pra-PON XX di Jakarta (2019).
- Juara Umum Kejurnas di Jawa Timur (2021).
- Juara Umum di Bali (2021).
- Juara dalam event internasional Double Open MDKS di Malaysia (2019).
- Persiapan PON 2024: Aceh aktif mempersiapkan atlet untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2024, dengan target medali emas yang tinggi.
Komentar
Posting Komentar