ppc faktor psikologis
Faktor psikologis dalam olahraga adalah aspek mental dan emosional yang mempengaruhi kinerja dan prestasi atlet. Menurut Albert Bandura (1977 : 17): "Faktor psikologis adalah proses mental yang mempengaruhi perilaku dan kinerja individu, termasuk motivasi, kepercayaan diri, dan emosi." Menurut Richard M. Ryan dan Edward Deci (2000 : 55): "Faktor psikologis adalah aspek mental yang mempengaruhi motivasi dan perilaku individu, termasuk kebutuhan dasar, nilai, dan tujuan." Menurut John A. Hattie (2009 : 27): "Faktor psikologis adalah variabel mental yang mempengaruhi kinerja dan prestasi individu, termasuk motivasi, kepercayaan diri, dan strategi belajar."
Beberapa faktor psikologis yang penting dalam olahraga:
1. Motivasi: dorongan untuk mencapai tujuan dan sukses.
2. Konsentrasi: kemampuan untuk fokus pada tugas dan mengabaikan gangguan.
3. Kepercayaan Diri: keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk mencapai tujuan.
4. Tekanan: kemampuan untuk mengelola tekanan dan stres saat bermain.
5. Emosi: kemampuan untuk mengelola emosi, seperti kegembiraan, kesedihan, dan frustrasi.
6. Fokus: kemampuan untuk fokus pada target dan mengabaikan gangguan.
7. Kesabaran: kemampuan untuk menunggu kesempatan yang tepat untuk bertindak.
8. Strategi Mental: kemampuan untuk mengembangkan strategi dan taktik permainan.
Faktor psikologis ini dapat mempengaruhi:
1. Kinerja: kemampuan untuk bermain dengan baik dan mencapai tujuan.
2. Aksesi: kemampuan untuk melakukan gerakan yang akurat dan efektif.
3. Keputusan: kemampuan untuk membuat keputusan yang tepat saat bermain.
4. Reaksi: kemampuan untuk bereaksi cepat dan tepat terhadap situasi permainan.
Teknik psikologis yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja olahraga adalah:
1. Visualisasi: membayangkan diri sendiri melakukan gerakan yang sukses.
2. Relaksasi: mengurangi stres dan tekanan dengan teknik relaksasi.
3. Fokus: memfokuskan perhatian pada target dan mengabaikan gangguan.
4. Positif Thinking: mengembangkan sikap positif dan percaya diri.
5. Goal Setting: menetapkan tujuan yang spesifik dan dapat dicapai.
3.5 latihan progresif
faktornya:
1. Peningkatan Beban Secara Bertahap
Latihan progresif berarti beban latihan (intensitas, durasi, frekuensi) ditingkatkan sedikit demi sedikit.
• Contoh: menambah durasi lari dari 10 menit → 15 menit → 20 menit
• Tujuan: memberi waktu otot, sendi, dan ligamen untuk beradaptasi
Jika peningkatan terlalu drastis, bisa menyebabkan cedera seperti strain atau sprain.
2. Adaptasi Fisiologis Tubuh
Tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi terhadap latihan.
• Otot menjadi lebih kuat
• Tulang lebih padat
• Sendi lebih stabil
Latihan progresif membantu mencegah cedera karena tubuh sudah siap menerima beban yang lebih berat.
3. Pengaturan Intensitas Latihan
Latihan harus disesuaikan dengan kemampuan individu.
• Pemula: intensitas ringan → sedang
• Atlet: bisa meningkat ke intensitas tinggi
Intensitas yang tidak sesuai sering menjadi penyebab cedera overtraining.
4. Prinsip Overload yang Terkontrol
Overload (beban lebih) memang diperlukan untuk peningkatan kemampuan, tetapi harus terkontrol.
• Tidak boleh terlalu berat
• Harus diselingi istirahat
Overload tanpa kontrol dapat menyebabkan cedera kronis seperti tendinitis.
5. Waktu Istirahat (Recovery)
Latihan progresif selalu diimbangi dengan waktu pemulihan.
• Istirahat membantu perbaikan jaringan otot
• Mengurangi kelelahan berlebih
Kurang istirahat = risiko cedera meningkat.
6. Konsistensi Latihan
Latihan harus dilakukan secara rutin, bukan tiba-tiba berat lalu berhenti lama.
• Konsistensi membantu menjaga kondisi fisik
• Mengurangi risiko cedera saat kembali latihan
7. Evaluasi dan Monitoring
Perkembangan latihan harus dipantau.
• Apakah tubuh terasa nyeri?
• Apakah ada tanda cedera?
Jika ada tanda cedera, latihan harus dikurangi atau dihentikan sementara.
5.6 Penyebab Cedera karena Prinsip Perilaku dalam Olahraga
Cedera dapat terjadi karena perilaku atau sikap atlet yang tidak sesuai dengan prinsip olahraga yang benar, antara lain:
1. Kurang disiplin
Tidak mengikuti aturan latihan atau instruksi pelatih.
2. Bermain kasar / tidak sportif
Misalnya melakukan pelanggaran keras yang berisiko mencederai diri sendiri dan orang lain.
3. Overconfidence (terlalu percaya diri)
Merasa mampu melakukan gerakan sulit tanpa persiapan yang cukup.
4. Kurang konsentrasi
Fokus yang menurun dapat menyebabkan kesalahan teknik dan kecelakaan.
5. Mengabaikan kondisi tubuh
Tetap berlatih saat lelah, sakit, atau cedera ringan.
6. Tidak menggunakan perlengkapan yang sesuai
Seperti sepatu atau alat pelindung yang tidak standar.
5.7 Penyebab Cedera karena Warming Up (Pemanasan)
Pemanasan sangat penting untuk mempersiapkan tubuh. Cedera bisa terjadi jika:
1. Tidak melakukan pemanasan
Otot masih kaku sehingga mudah tertarik atau robek.
2. Pemanasan tidak cukup (kurang maksimal)
Durasi terlalu singkat atau gerakan tidak menyeluruh.
3. Pemanasan tidak sesuai jenis olahraga
Misalnya tidak menyesuaikan dengan gerakan utama olahraga tersebut.
4. Pemanasan terlalu berat
Bisa menyebabkan kelelahan sebelum latihan inti dimulai.
5. Teknik pemanasan yang salah
Gerakan peregangan yang salah justru dapat menimbulkan cedera.
5.8 Penyebab Cedera karena Cooling Down (Pendinginan)
Pendinginan membantu tubuh kembali normal setelah aktivitas. Cedera dapat terjadi jika:
1. Tidak melakukan pendinginan
Otot menjadi tegang dan berisiko kram atau nyeri.
2. Pendinginan dilakukan secara tiba-tiba berhenti total
Dapat menyebabkan pusing, bahkan pingsan karena aliran darah tidak stabil.
3. Pendinginan tidak cukup
Tidak membantu pemulihan otot secara optimal.
4. Tidak melakukan peregangan setelah latihan
Otot menjadi kaku dan meningkatkan risiko cedera di latihan berikutnya.
5. Teknik pendinginan yang salah
Peregangan berlebihan atau tidak sesuai kondisi tubuh.
4.6 Perilaku dalam Olahraga
Perilaku dalam olahraga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keselamatan dan keberhasilan seseorang dalam melakukan aktivitas olahraga. Perilaku yang baik seperti disiplin, mematuhi aturan permainan, serta melakukan teknik dengan benar dapat membantu mengurangi risiko terjadinya cedera. Sebaliknya, perilaku yang ceroboh, melanggar aturan, atau tidak memperhatikan teknik yang benar dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya cedera saat berolahraga. Perilaku dalam olahraga dapat diartikan sebagai tindakan atau sikap seseorang ketika melakukan aktivitas olahraga yang dipengaruhi oleh kebiasaan, pengetahuan, serta kondisi psikologis individu. Menurut Komarudin (2015, hal. 92) dalam buku Psikologi Olahraga menyatakan bahwa: “Perilaku dalam olahraga merupakan tindakan atau respons individu yang muncul dalam situasi latihan maupun pertandingan yang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan lingkungan.” Selanjutnya, Singgih D. Gunarsa (2008, hal. 88) dalam buku Psikologi Olahraga Prestasi menjelaskan bahwa: “Perilaku atlet dalam olahraga dapat terlihat dari sikap disiplin, kepatuhan terhadap aturan, serta kemampuan mengontrol emosi selama melakukan aktivitas olahraga.” Selain itu, Weinberg dan Gould (2011, hal. 27) dalam buku Foundations of Sport and Exercise Psychologymengemukakan bahwa: “Perilaku dalam olahraga merupakan hasil dari interaksi antara faktor pribadi dan lingkungan yang mempengaruhi cara individu bertindak dalam aktivitas olahraga.”
4.6.1 Warming Up
Warming up (pemanasan) merupakan salah satu kegiatan penting yang harus dilakukan sebelum melakukan aktivitas olahraga. Pemanasan bertujuan untuk mempersiapkan tubuh agar siap melakukan aktivitas fisik yang lebih berat. Dengan melakukan pemanasan, otot, sendi, dan sistem peredaran darah menjadi lebih siap bekerja sehingga dapat membantu mengurangi risiko terjadinya cedera saat berolahraga. Warming up dapat diartikan sebagai serangkaian gerakan ringan yang dilakukan sebelum aktivitas olahraga untuk meningkatkan suhu tubuh, memperlancar peredaran darah, serta mempersiapkan otot dan sendi agar siap melakukan aktivitas fisik. Menurut Sukadiyanto (2011, hal. 84) dalam buku Pengantar Teori dan Metodologi Melatih Fisik menyatakan bahwa: “Pemanasan merupakan kegiatan awal sebelum latihan yang bertujuan untuk mempersiapkan kondisi fisik dan mental agar siap melakukan aktivitas yang lebih berat.” Selanjutnya, Harsono (2015, hal. 45) dalam buku Kepelatihan Olahraga menjelaskan bahwa: “Pemanasan adalah rangkaian gerakan yang dilakukan sebelum latihan atau pertandingan untuk meningkatkan suhu tubuh serta mempersiapkan otot dan sendi.” Selain itu, Bompa (2009, hal. 92) dalam buku Theory and Methodology of Training mengemukakan bahwa: “Pemanasan merupakan bagian penting dari latihan yang bertujuan untuk meningkatkan kesiapan tubuh dan mengurangi risiko cedera selama aktivitas fisik.”
4.6.2 Colling Down
Cooling down (pendinginan) merupakan bagian penting setelah melakukan aktivitas olahraga yang bertujuan untuk mengembalikan kondisi tubuh ke keadaan normal secara bertahap. Pendinginan membantu menurunkan denyut jantung, mengurangi ketegangan otot, serta mencegah rasa kaku atau nyeri setelah berolahraga. Dengan melakukan cooling down, tubuh dapat pulih dengan lebih baik sehingga dapat mengurangi risiko cedera. Cooling down dapat diartikan sebagai serangkaian gerakan ringan yang dilakukan setelah aktivitas olahraga untuk membantu tubuh kembali ke kondisi normal secara bertahap. Menurut Sukadiyanto (2011, hal. 86) dalam buku Pengantar Teori dan Metodologi Melatih Fisik menyatakan bahwa: “Pendinginan merupakan kegiatan yang dilakukan setelah latihan dengan tujuan mengembalikan kondisi tubuh secara bertahap ke keadaan semula.” Selanjutnya, Harsono (2015, hal. 47) dalam buku Kepelatihan Olahraga menjelaskan bahwa: “Pendinginan adalah aktivitas ringan setelah latihan yang berfungsi untuk menurunkan suhu tubuh dan mengurangi ketegangan otot.” Selain itu, Bompa (2009, hal. 95) dalam buku Theory and Methodology of Training mengemukakan bahwa: “Cooling down merupakan bagian penting dari latihan yang membantu proses pemulihan tubuh serta mengurangi risiko cedera setelah aktivitas fisik.”https://youtu.be/E3_-cjW87WE?si=Etj8wAmztD8AlQzy
l
Komentar
Posting Komentar